Proses kreatif dalam matematika tidak selalu mempunyai
target untuk menemukan rumus matematika. Apabila anak mampu memvisualisasikan
soal cerita matematika dengan caranya sendiri sudah termasuk kegiatan membuat
kreativitas dengan matematika.
Urutan proses kreatif di dalam otak kanan dan kiri:
a.
First insight :
mencari problem yang belum pernah dibuat sebelumnya (otak kanan).
b.
Saturasion :
memberi nama pada problem dan mengumpulkan data (otak kiri).
c.
Incubation :
memvisualisasikan data yang diterima (otak kanan)
d.
Aha! :
timbulnya ide (otak kanan).
e.
Verification :
ide itu dijabarkan, dibuktikan dan dianalisis kemudian disusun urutan
pengerjaannya (otak kiri).
Pada proses kreatif selalu terlihat
aktivitas belahan otak kanan lebih dominan. Tetapi justru penggunaan otak kiri
(saturation dan verification) ini
yang digenjot habis dalam sistem pengajaran matematika kita.
Dari seluruh
ketrampilan hidup yang akan dibutuhkan anak dalam hidupnya, hampir tidak ada
yang lebih penting dari ketrampilan berpikir jernih dan kreatif. Kemampuan
untuk memecahkan masalah dan berpikir kreatif seperti menciptakan ide baru,
menemukan pemecahan masalah baru bagi persoalan lama, merupakan bagian dari
ketrampilan berpikir kreatif.
Sungguh
mengherankan, cara berpikir kreatif sangat jarang diajarkan di sekolah. Oleh
karena itu seharusnya guru merupakan harapan anak untuk menumbuhkan cara
berpikir logis dan kreatifnya.
Anak belajar
dengan efektif dengan melihat, mendengar, meniru dan terutama, mempraktekkannya
sendiri. Kita juga bisa mengembangkan cara berpikir kreatif anak melalui “bahasa anak” yaitu bermain. Kita
bisa menggunakan pendekatan ”Bagaimana
Jika.” Setiap hari kita dihadapkan pada berbagai permasalahan yang
membutuhkan pemecahan, baik solusi baru atau lama. Diskusikan dengan anak
“Bagaimana Jika”.
Cari Solusi Baru. Seringkali pemecahan
masalah menjadi rutinitas. Libatkan anak untuk mencari solusi baru dalam
pemecahan masalah dalam pelajaran matematika.
Bangun fondasi berpikir lewat rasa ingin tahu anak. Anak-anak senang sekali bertanya : ”mengapa?” . dan kita dapat
menanyakan pada anak: “Menurutmu, mengapa terjadi seperti itu?” Mengapa ia
memikirkan jawaban seperti itu. Makin
baik hari demi hari. Sesering mungkin carilah cara sederhana untuk
memperbaiki sesuatu. Jelaskan pada anak mengapa kita melakukannya.
Sebagai contoh
ketika sedang belajar pengukuran kita bisa bertanya kepada seorang anak
“bisakah kita mengukur ruangan kelas ini dengan menggunakan penggaris?”. Ketika
anak menjawab, ”tidak bisa, penggaris itu terlalu pendek” , kita dapat
menunjukkan cara mengukur ubin itu dengan penggaris, dan panjang ubin itu 30
cm. Setelah kita menunjukkan cara itu, maka anak tersebut akan menemukan idenya (Aha!), “kalau begitu
tinggal menghitung ubin dilantai dari ujung ke ujung dan mengalikannya dengan
30 cm”. Kemudian kita beri pertanyaan lagi, “bagaimana jika lantai ini diganti
dengan ubin yang panjangnya 50 cm, bagaimana cara mengukur panjang ruangan
ini?”. Maka anak tersebut akan memikirkan sebuah cara yang kreatif agar bisa
mengukur panjang ruangan tersebut. Misalnya saja anak tersebut mengukur sebuah
tali yang panjangnya 50 cm dan memegang kedua ujungnya. Setelah itu si anak mulai
bergerak dari ujung lantai. Tangan kanannya maju melampaui tangan kiri, setelah
itu tangan kiri maju lagi melampaui tangan kanan. Begitu seterusnya sampai
didapat panjang lantai tersebut.
Dengan
pembelajaran mengukur suatu panjang kita bisa menumbuhkan proses kreatif,
anak-anak akan merasa bahwa ilmu yang dipelajari itu ada gunanya. Lagi pula
dengan cara ini kita tidak hanya bicara tentang suatu rumus matematika, tetapi
menimbulkan ide (Aha!) untuk
pemecahan masalah tidak selalu tergantung dengan peralatan yang ada.
Untuk
memperkenalkan konsep geometri, kita bisa memanfaatkan permainan Dadu. Seratus
dadu sangat berbeda dengan satu dadu. Satu dadu biasa-biasa saja. Seratus dadu
adalah pemandangan yang mempesona dan mengagumkan. Anak-anak dibiarkan bermain
dengan ratusan dadu.
Mereka
secara kreatif menyusun dadu itu, di sela-sela anak-anak sedang bermain, kita
bisa bertanya, ”berapa luas segi empat ini?” sambil menunjukkan segi empat yang
terdiri dari 8 dadu.“Luas itu apa?” anak-anak balik bertanya.
”Luas itu adalah banyaknya dadu.”
”Luas itu adalah banyaknya dadu.”
”Delapan…”
kata anak-anak sambil menghitung dadu. Dengan beberapa kali pengulangan,
anak-anak tidak akan menghitung banyaknya dadu. Diharapkan dengan cara seperti
ini anak-anak menemukan cara yang lebih sederhana. Mereka mengalikan panjang
dengan lebar dari segi empat itu. Anak-anak memahami konsep luas tanpa
diterangkan. Mereka menemukan sendiri dengan bermain Dadu bahwa luas adalah panjang kali lebar. Ini
sesuai dengan pendapat Anang (2010:105) “pada prosesnya, kreatif anak menghasilkan
sesuatu yang mengejutkan baik itu berupa hasil atau produk maupun sekedar
gagasan”.
Kita
juga dapat bertanya kebalikannya, ”Tolong buatkan segi empat yang luasnya
9!”. Anak-anak akan mengambil 9 dadu dan
menatanya menjadi persegi berukuran 3 x 3. ”Tolong buatkan segi empat yang
luasnya 12!”. Anak-anak akan mengambil 12 dadu dan menyusunnya menjadi segi
empat yang berukuran 3 x 4 atau 6 x 2 atau 12 x 1. Semua itu harus kita
benarkan. Itulah kreatif. Terdapat lebih dari satu macam jawaban. Bahkan dari
perbedaan jawaban ini, guru dapat melangkah lebih jauh memperkenalkan konsep
keliling.
Pada proses belajar seharusnya melibatkan seluruh kemampuan
dasar yang dimiliki oleh anak, yaitu akal, imajinasi, daya nalar, dan
kreativitas. Pada pelajaran matematika misalnya, anak diajak untuk menggunakan
akal, imajinasi, gerak, kreativitas, dan emosi mereka untuk menyelesaikan
persoalan.
Soal matematika akan menjadi soal yang sangat susah
dipecahkan oleh anak yang tidak terbiasa memecahkan soal dengan kemampuan
nalar. Mereka akan menjawab tidak mengerti dan selanjutnya mereka langsung
menyerah untuk memikirkan cara mencari jawaban karena mereka terbiasa malas
berpikir.
Dialog antara guru dan anak akan membantu anak menjawab
dengan runutan nalar yang benar atas dasar kemampuan berpikir mereka sendiri.
Proses belajar yang melibatkan pengalaman anak untuk memecahkan persoalan, akan
terpatri kuat pada memori anak, sehingga diharapkan anak akan mempunyai
kemampuan memecahkan soal secara mandiri. Proses ini akan menambah rasa percaya
diri anak bahwa mereka mampu menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Ketika anak menemui soal matematika yang cukup sulit, maka
anak diajak menuliskan (menggerakkan tangan) apa yang diketahui dari soal
tersebut. Pada saat menuliskan yang diketahui, maka ide pemecahan soal kadang
timbul dengan sendirinya. Karena pada saat anak mulai menulis, maka anak juga
otomatis berpikir kreatif cara menyelesaikan soal. Tetapi setelah anak menulis
soal tetap belum menemukan ide menjawab soal, maka anak diajak berimajinasi
dalam kehidupan nyata untuk terlibat dalam persoalan tersebut. Biasanya jika
proses ini dilakukan secara benar, anak tidak akan menemui kesulitan dalam
menjawab soal.
Selain itu, untuk menumbuhkan proses kreatif anak dalam mata
pelajaran matematika bisa dilakukan dengan menggunakan gaya belajar yang
berbeda, yakni visual dan kinestetik tidak hanya audio saja. Sebab tidak semua
anak dilahirkan dengan gaya belajar audio. Gaya belajar visual biasanya lebih
mudah mengakses gambar, bentuk, warna, hubungan ruang, masalah dua dan tiga
dimensi. Gaya belajar audiotori lebih berhubungan dengan jenis bunyi, mengingat
kata, nada, dan bunyi-bunyian. Sedangkan kinestetik berhubungan dengan
koordinasi, gerakan, tanggapan emosionil, dan kenyamanan fisik. Semua anak
punya ketiga gaya belajar ini , tetapi biasanya lebih menonjol pada satu gaya
belajar saja.
No comments:
Post a Comment