Tuesday, April 24, 2012

Menumbuhkan Proses Kreatif Pada Anak Pada Mata Pelajaran Matematika Di SD


Proses kreatif dalam matematika tidak selalu mempunyai target untuk menemukan rumus matematika. Apabila anak mampu memvisualisasikan soal cerita matematika dengan caranya sendiri sudah termasuk kegiatan membuat kreativitas dengan matematika.
Urutan proses kreatif di dalam otak kanan dan kiri:
a.      First insight                   : mencari problem yang belum pernah dibuat sebelumnya (otak kanan).
b.      Saturasion                       : memberi nama pada problem dan mengumpulkan data (otak kiri).
c.       Incubation                       : memvisualisasikan data yang diterima (otak kanan)
d.      Aha!                                 : timbulnya ide (otak kanan).
e.      Verification                     : ide itu dijabarkan, dibuktikan dan dianalisis kemudian disusun urutan pengerjaannya (otak kiri).
            Pada proses kreatif selalu terlihat aktivitas belahan otak kanan lebih dominan. Tetapi justru penggunaan otak kiri (saturation dan verification) ini yang digenjot habis dalam sistem pengajaran matematika kita.
Dari seluruh ketrampilan hidup yang akan dibutuhkan anak dalam hidupnya, hampir tidak ada yang lebih penting dari ketrampilan berpikir jernih dan kreatif. Kemampuan untuk memecahkan masalah dan berpikir kreatif seperti menciptakan ide baru, menemukan pemecahan masalah baru bagi persoalan lama, merupakan bagian dari ketrampilan berpikir kreatif.
Sungguh mengherankan, cara berpikir kreatif sangat jarang diajarkan di sekolah. Oleh karena itu seharusnya guru merupakan  harapan anak untuk menumbuhkan cara berpikir logis dan kreatifnya.
Anak belajar dengan efektif dengan melihat, mendengar, meniru dan terutama, mempraktekkannya sendiri. Kita juga bisa mengembangkan cara berpikir kreatif  anak melalui “bahasa anak” yaitu bermain. Kita bisa menggunakan pendekatan ”Bagaimana Jika.” Setiap hari kita dihadapkan pada berbagai permasalahan yang membutuhkan pemecahan, baik solusi baru atau lama. Diskusikan dengan anak “Bagaimana Jika”.
Cari Solusi Baru. Seringkali pemecahan masalah menjadi rutinitas. Libatkan anak untuk mencari solusi baru dalam pemecahan masalah dalam pelajaran matematika. 
Bangun fondasi berpikir lewat rasa ingin tahu anak. Anak-anak senang sekali bertanya : ”mengapa?” . dan kita dapat menanyakan pada anak: “Menurutmu, mengapa terjadi seperti itu?” Mengapa ia memikirkan jawaban seperti itu. Makin baik hari demi hari. Sesering mungkin carilah cara sederhana untuk memperbaiki sesuatu. Jelaskan pada anak mengapa kita melakukannya.
Sebagai contoh ketika sedang belajar pengukuran kita bisa bertanya kepada seorang anak “bisakah kita mengukur ruangan kelas ini dengan menggunakan penggaris?”. Ketika anak menjawab, ”tidak bisa, penggaris itu terlalu pendek” , kita dapat menunjukkan cara mengukur ubin itu dengan penggaris, dan panjang ubin itu 30 cm. Setelah kita menunjukkan cara itu, maka anak tersebut akan  menemukan idenya (Aha!), “kalau begitu tinggal menghitung ubin dilantai dari ujung ke ujung dan mengalikannya dengan 30 cm”. Kemudian kita beri pertanyaan lagi, “bagaimana jika lantai ini diganti dengan ubin yang panjangnya 50 cm, bagaimana cara mengukur panjang ruangan ini?”. Maka anak tersebut akan memikirkan sebuah cara yang kreatif agar bisa mengukur panjang ruangan tersebut. Misalnya saja anak tersebut mengukur sebuah tali yang panjangnya 50 cm dan memegang kedua ujungnya. Setelah itu si anak mulai bergerak dari ujung lantai. Tangan kanannya maju melampaui tangan kiri, setelah itu tangan kiri maju lagi melampaui tangan kanan. Begitu seterusnya sampai didapat panjang lantai tersebut.
Dengan pembelajaran mengukur suatu panjang kita bisa menumbuhkan proses kreatif, anak-anak akan merasa bahwa ilmu yang dipelajari itu ada gunanya. Lagi pula dengan cara ini kita tidak hanya bicara tentang suatu rumus matematika, tetapi menimbulkan ide (Aha!) untuk pemecahan masalah tidak selalu tergantung dengan peralatan yang ada.
Untuk memperkenalkan konsep geometri, kita bisa memanfaatkan permainan Dadu. Seratus dadu sangat berbeda dengan satu dadu. Satu dadu biasa-biasa saja. Seratus dadu adalah pemandangan yang mempesona dan mengagumkan. Anak-anak dibiarkan bermain dengan ratusan dadu.
Mereka secara kreatif menyusun dadu itu, di sela-sela anak-anak sedang bermain, kita bisa bertanya, ”berapa luas segi empat ini?” sambil menunjukkan segi empat yang terdiri dari 8 dadu.“Luas itu apa?” anak-anak balik bertanya.
”Luas itu adalah banyaknya dadu.”
”Delapan…” kata anak-anak sambil menghitung dadu. Dengan beberapa kali pengulangan, anak-anak tidak akan menghitung banyaknya dadu. Diharapkan dengan cara seperti ini anak-anak menemukan cara yang lebih sederhana. Mereka mengalikan panjang dengan lebar dari segi empat itu. Anak-anak memahami konsep luas tanpa diterangkan. Mereka menemukan sendiri dengan bermain Dadu  bahwa luas adalah panjang kali lebar. Ini sesuai dengan pendapat Anang (2010:105) “pada prosesnya, kreatif anak menghasilkan sesuatu yang mengejutkan baik itu berupa hasil atau produk maupun sekedar gagasan”.
Kita juga dapat bertanya kebalikannya, ”Tolong buatkan segi empat yang luasnya 9!”.  Anak-anak akan mengambil 9 dadu dan menatanya menjadi persegi berukuran 3 x 3. ”Tolong buatkan segi empat yang luasnya 12!”. Anak-anak akan mengambil 12 dadu dan menyusunnya menjadi segi empat yang berukuran 3 x 4 atau 6 x 2 atau 12 x 1. Semua itu harus kita benarkan. Itulah kreatif. Terdapat lebih dari satu macam jawaban. Bahkan dari perbedaan jawaban ini, guru dapat melangkah lebih jauh memperkenalkan konsep keliling.
Pada proses belajar seharusnya melibatkan seluruh kemampuan dasar yang dimiliki oleh anak, yaitu akal, imajinasi, daya nalar, dan kreativitas. Pada pelajaran matematika misalnya, anak diajak untuk menggunakan akal, imajinasi, gerak, kreativitas, dan emosi mereka untuk menyelesaikan persoalan.
Soal matematika akan menjadi soal yang sangat susah dipecahkan oleh anak yang tidak terbiasa memecahkan soal dengan kemampuan nalar. Mereka akan menjawab tidak mengerti dan selanjutnya mereka langsung menyerah untuk memikirkan cara mencari jawaban karena mereka terbiasa malas berpikir.
Dialog antara guru dan anak akan membantu anak menjawab dengan runutan nalar yang benar atas dasar kemampuan berpikir mereka sendiri. Proses belajar yang melibatkan pengalaman anak untuk memecahkan persoalan, akan terpatri kuat pada memori anak, sehingga diharapkan anak akan mempunyai kemampuan memecahkan soal secara mandiri. Proses ini akan menambah rasa percaya diri anak bahwa mereka mampu menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Ketika anak menemui soal matematika yang cukup sulit, maka anak diajak menuliskan (menggerakkan tangan) apa yang diketahui dari soal tersebut. Pada saat menuliskan yang diketahui, maka ide pemecahan soal kadang timbul dengan sendirinya. Karena pada saat anak mulai menulis, maka anak juga otomatis berpikir kreatif cara menyelesaikan soal. Tetapi setelah anak menulis soal tetap belum menemukan ide menjawab soal, maka anak diajak berimajinasi dalam kehidupan nyata untuk terlibat dalam persoalan tersebut. Biasanya jika proses ini dilakukan secara benar, anak tidak akan menemui kesulitan dalam menjawab soal.
Selain itu, untuk menumbuhkan proses kreatif anak dalam mata pelajaran matematika bisa dilakukan dengan menggunakan gaya belajar yang berbeda, yakni visual dan kinestetik tidak hanya audio saja. Sebab tidak semua anak dilahirkan dengan gaya belajar audio. Gaya belajar visual biasanya lebih mudah mengakses gambar, bentuk, warna, hubungan ruang, masalah dua dan tiga dimensi. Gaya belajar audiotori lebih berhubungan dengan jenis bunyi, mengingat kata, nada, dan bunyi-bunyian. Sedangkan kinestetik berhubungan dengan koordinasi, gerakan, tanggapan emosionil, dan kenyamanan fisik. Semua anak punya ketiga gaya belajar ini , tetapi biasanya lebih menonjol pada satu gaya belajar saja.

No comments:

Post a Comment

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))